MEMPERSIAPKAN HARI KEMATIAN

MEMPERSIAPKAN HARI KEMATIAN

Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, b  tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka c  sudah lenyap. (Pengkotbah 9:5)

Riama (2)PENDAHULUAN: Banyak orang mempersiapkan kematian dengan asuransi dan ada juga menjadikan anaknya berhasil lulus sarjana. Memastikan anak-anaknya menikah dan sudah punya cucu dari anak laki-laki dan anak perempuan (dalam bahasa batak disebut Saur matua). Barulah kematian yang demikian dipuji karena sudah mempersipkan segala sesuatunya. Nah itu, tidak salah! tetapi ada yang lebih penting yang perlu kita persiapkan yaitu mewarisi kehidupan yang KEKAL.

Dalam pembacaan Firman Tuhan Pengkotbah 9:5 menyatakan bahwa kita yang hidup tahu bahwa kita akan mati. Itu artinya kita semuanya yang masih hidup ini tahu bahwa kita semuanya akan mati. Jika kita semuanya tahu bahwa hujan akan turun, pasti kita menyediakan payung bukan? Demikian halnya kematian ini. Kita harus mempersiapkan diri untuk hal itu.

Kelahiran ialah pintu awal kehidupan di bumi ini, sedangkan kematian ialah pintu akhir kehidupan di bumi ini dan sekaligus pintu awal memasuki kehidupan yang kekal. Paulus menyatakan dalam Filipi 1:21: “Mati adalah keuntungan”. Kenapa Paulus begitu yakin ketika ia mati nanti menjadi suatu keuntungan? jawabannya karena dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Bukan harta atau materi tetapi imannya.

Apa yang harus kita persiapkan mnejelang kematian?

  1. Mendekatkan diri kepada Tuhan ( Mazmur 62:2). Selagi kita masih hidup dekatkan diri kepada Tuhan, karena hanya di dalam Tuhan ada ketenangan dan keselamatan. Ketika kita mendekatkan diri kepada Tuhan maka kita mengerti isi hati Tuhan dan iman kita akan semakin bertumbuh sehingga menjadi kuat.
  2. Hidup Harus Berguna (Yakobus 4:14). Dalam Yakobus mengatakan bahwa hidup kita ini seperti uap yang hanya sebentar saja kelihatan. Pemazmur mengatakan hidup kita hanya 70-80 tahun saja. Hidup di dunia yang fana ini hanya sementara, untuk itu sukses di dunia bukan menjadi target akhir tetapi bagaimana menjalani hidup yang kekal. Untuk itu selagi kita hidup di dunia ini harus berguna. Keberhasilan yang tertinggi ialah ketika kita berguna bagi sesama bukan mencapai puncak karier atau kaya raya.
  3. Hidup dan mati harus berkualitas. Hidup yang berkualitas ialah hidup yang dapat memberikan atau mewarisi hal yang baik dari orang tua kita terutama imannya. Sedangkan mati yang berkualitas ialah kita meninggalkan atau mewarisi hal-hal yang baik bagi keluarga dan anak-anak kita.

St. Riama Pasaribu seorang hamba Tuhan yang berhasil mempersiapkan dirinya menghadap sang khalik. Dimana beliau telah menghabiskan waktunya untuk berdoa bagi banyak orang lain, tanpa memusingkan rasa sakitnya. Beliau juga sudah mempersiapkan semua anak-anaknya untuk mengenal dan melayani Tuhan. Sehingga kita mengganggap tugasnya diselesaikan dengan baik selama di bumi itu artinya hidup dan mati beliau ialah berkualitas.

SELAMAT JALAN St. Riama Pasaribu. Sakitmu sudah sembuh, tugasmu sudah selesai. Kepada anak-anak diberikan penghiburan yang sejati dari Roh Kudus. Mazmur 27:10: “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku”.

Pdt. Dr. Freddy Siagian, M.Th.,M.M.

Riama (1) Riama (4) Riama (5)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*